Rencana Kontijensi Banjir Kota Makassar
06/28/2021 No Comments Kedararuratan,Perencanaan user bpbd

Penanggulangan bencana berasaskan kemanusiaan, keadilan, kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, keseimbangan keselarasan – keserasian, ketertiban dan kepastian hukum, kebersamaan, kelestarian lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.  Prinsip-prinsip penanggulangan bencana yakni cepat dan tepat, prioritas, koordinasi dan keterpaduan, berdaya guna dan berhasil guna; transparansi dan akuntabilitas; kemitraan, pemberdayaan, nondiskriminatif, dan nonproletisi mutlak dihadirkan oleh para pelaku penyelenggara Penanggulangan Bencana di Kota Makassar.

Kejadian bencana dapat menimbulkan keadaan darurat yang ditandai dengan terancamnya keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Hampir semua jenis bencana dapat menimbulkan korban jiwa, kerugian harta benda, dan rusaknya prasarana dan sarana publik. Untuk itu diperlukan penanganan yang cepat dan tepat guna  mengurangi timbulnya dampak yang lebih buruk.

Dalam situasi darurat bencana, sering terjadi kesimpang-siuran data dan informasi korban maupun kerusakan, sehingga mempersulit pengambilan kebijakan penanganan darurat. Dalam kondisi seperti ini, diperlukan suatu institusi yang menjadi pusat komando penanganan darurat bencana sesuai dengan lokasi dan tingkatan bencana, yaitu Komando Penanganan Darurat Bencana. Pemerintah Daerah menetapkan status darurat sekaligus menetapkan Komando Penanganan Darurat Bencana dan aktifikasi Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Banjir (Posko PDB). Pos Komando Penanganan Darurat Bencana dapat dilengkapi dengan pembentukan Pos Lapangan PDB, Pos Pendukung PDB dan Pos Pendamping PDB, yang merupakan satu kesatuan sistem penanganan tanggap darurat bencana yang efektif dan efisien serta akuntabel. Konsep ini di susun melalui dokumen rencana kontijensi.

Seperti halnya di Kota Makssar, hampir setiap tahunnya beberapa bagian kota di Kota Makassar mengalami banjir. Banjir itu pada umumnya terjadi pada bulan Desember-Februari, yaitu pada saat curah hujan tertinggi setiap tahun. Banjir yang cukup besar yang terjadi di Kota Makassar beberapa tahun terakhir ini adalah pada tahun 2013 dan tahun 2019 yang mengakibatkan sebagian besar wilayah Kota Makassar mengalami banjir. Daerah-daerah yang menjadi langganan banjir pada umumnya merupakan daerah rendah. Daerah tersebut sebelumnya merupakan wilayah berupa empang atau daerah rawa-rawa yang kemudian berkembang menjadi daerah permukiman.

Faktor utama yang mengakibatkan terjadinya genangan adalah air hujan tidak mengalir karena disebabkan oleh topografi yang relatif datar, keberadaan Sungai Tallo yang bermuara disebelah Utara kota dan Sungai Jeneberang bermuara pada bagian Selatan kota serta kemampuan saluran itu sendiri. Tidak optimalnya prasarana sumber daya air serta prilaku tidak sadar lingkungan oleh sebagian warga turut memicu terjadinya genangan dan banjir

Sebagai rangkaian upaya Penanggulangan Kedaruratan Bencana di Kota Makassar Rencana Kontijensi Banjir Kota MakassarTahun 2014 di revisi pada Tahun 2019, Dokumen Rencana Kontijensi banjir ini penyusunannya difasilitasi oleh Direktorat Kesiapsiagaan BNPB. Melalui empat kali interaksi dengan para stakeholder, akhirnya tersusun dokumen rencana kontijensi banjir. Dilakukan dengan aplikasi Quantim GIS untuk pengolahan dan analisa data spasial termasuk updating data langsung ke lapangan dengan melaukan tracing dengan GPS  terhadap wilayah banjir awal Tahun 2019.

Dokumen ini merupakan panduan pelaksanaan penanganan darurat bencana, agar terarah dan terkoordinasi melalui Komando Penanganan Darurat Bencana Banjir Kota Makassar, sehingga dapat mengurangi korban dan kerugian yang tidak kita harapkan.

About The Author

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CALL CENTRE 112